Rabu, 11 April 2012

Ayo Gebrak Malaria


Dalam rangka menyambut Hari Malaria Sedunia yang diperingati setiap tanggal 25 April, rencananya Duta Roll Back Malaria (RBM) yaitu Princess Astrid dari Kerajaan Belgia akan datang ke Indnesia untuk melihat program pengendalian malaria dari tingkat pusat hingga pelaksanaannya di lapangan. Dijadualkan, Princess Astrid dan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) dr. Tjandra Yoga Aditama akan melihat secara langsung pelaksanaan program pengendalian di Bandar Lampung bersama-sama dengan perwakilan dari WHO, UNICEF, dan Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GF-ATM). Sebelumnya, Princess Astrid juga akan menghadiri rangkaian Peringatan Hari Malaria Sedunia di Indonesia dan Pengukuhan Forum Nasional Gebrak Malaria bersama Wakil Presiden Budiono dan Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH.

Malaria masih mengancam kesehatan masyarakat. Berdasarkan The World Malaria Report 2011, dilaporkan bahwa setengah dari penduduk dunia berisiko terkena malaria. Hal ini, tentu saja berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia yang dapat menimbulkan berbagai masalah sosial, ekonomi bahkan berpengaruh terhadap ketahanan nasional

Indonesia merupakan salah satu negara yang masih terjadi transmisi malaria atau berisiko Malaria (Risk Malaria), karena hingga tahun 2011, terdapat 374 Kabupaten endemis malaria. Pada 2011, jumlah kasus malaria di Indonesia 256.592 orang dari 1.322.451 kasus suspek malaria yang diperiksa sediaan darahnya, dengan Annual Parasite Insidence (API)  1,75 per seribu penduduk. Hal ini berarti, setiap 1000 penduduk terdapat 2 orang terkena malaria.

Berbagai upaya eliminasi malaria dilakukan sejak beberapa dekade lalu. Diawali pada 1959, melalui Gerakan Pembasmian Malaria melalui Komando Pembasmian Malaria (KOPEM), yang berhasil menurunkan jumlah kasus malaria secara bermakna khususnya di Pulau Jawa. Karena adanya keterbatasan dana, program ini terhenti pada 1969 dan diubah secara bertahap menjadi upaya pemberantasan yang diintegrasikan ke dalam sistim pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan lain-lain.

Berdasarkan pengalaman tersebut, upaya penanggulangan malaria tidak berhasil optimal bila hanya bertumpu pada sektor kesehatan semata karena berkaitan dengan berbagai aspek lainnya. Hal inilah yang mendasari negara-negara WHO berkomitmen untuk meluncurkan gerakan intensifikasi pengendalian malaria dengan kemitraan global, Roll Back Malaria Initiative (RBMI) pada Oktober 1998. Sebagai bentuk operasional dari RBMI, di Indonesia upaya pemberantasan malaria melalui kemitraan dengan seluruh komponen masyarakat ini dikenal sebagai Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria), dicanangkan oleh Menteri Kesehatan pada 8 April 2000 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Lebih lanjut, Indonesia bertekad untuk melakukan eliminasi malaria pada 2030, sesuai dengan Keputusan Menkes No.293/Menkes/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi malaria di Indonesia.

Untuk mengeliminasi malaria, pelaksanaan Gebrak Malaria di berbagai daerah harus dilaksanakan secara intensif dan komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor, keahlian, organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan terkait sebagai mitra. Untuk itu, maka di tingkat pusat akan segera dibentuk Forum Nasional Gerakan Berantas Kembali (Gebrak) Malaria.
Forum Nasional Gebrak Malaria merupakan forum koordinasi lintas program dan lintas sektor yang bertugas membantu Menteri Kesehatan melalui Direktorat Jenderal PP dan PL untuk merumuskan berbagai kebijakan dan strategi dalam menggerakkan kegiatan pengendalian malaria, serta menggalang kemitraan dengan berbagai stakeholder terkait menuju tercapainya eliminasi malaria tahun 2030. Forum ini terbagi menjadi enam komisi, yaitu Komisi Diagnosis dan Pengobatan Malaria; Komisi Laboratorium; Komisi Penilaian Eliminasi; Komisi Pengendalian Faktor Risiko; Komisi Kemitraan; dan Komisi Operasional Riset.

Secara umum, Forum Nasional Gebrak Malaria memiliki tugas untuk melakukan kajian ilmiah tentang pelaksanaan diagnosis dan pengobatan malaria terkini guna merekomendasikan strategi dan pedoman penatalaksanaan kasus malaria yang efektif dan aman; melakukan kajian ilmiah tentang kualitas laboratorium dan pemeriksaan malaria serta merekomendasikan hasilnya; melakukan advokasi dan sosialisasi ditingkat pusat dan daerah untuk meningkatkan kemitraan dan komitmen; melakukan telaah terhadap hasil penilaian tim monitoring eliminasi di Kabupaten/Kota atau Provinsi dan mengusulkan kepada Menteri Kesehatan untuk memperoleh sertifikat bebas malaria tingkat wilayah dan kepada WHO untuk tingkat nasional apabila memenuhi persyaratan; melakukan telaah kebijakan pengendalian vektor malaria dan faktor risiko lainnya; serta merumuskan, memfasilitasi dan menggerakkan kerjasama lintas program dan lintas sektor.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam upaya penanggulangan malaria, diantaranya diagnosis malaria harus dikonfirmasi secara mikroskopis atau dengan Uji Reaksi Cepat yang disebut Rapid Diagnostic Test (RDT); pengobatan menggunakan  Artemisinin Combination Therapy (ACT); pelatihan petugas kesehatan dalam manajemen program malaria, tatalaksana kasus terkini, dan pemeriksaan parasit malaria; penemuan aktif penderita; penatalaksanaan kasus dan pengobatan; pengendalian vektor; Pos Malaria Desa (Posmaldes); serta penyediaan sarana  seperti mikroskop, RDT, bahan laboratorium, dan obat-obatan (ACT).

Sebagai bentuk komitmen para kepala daerah untuk bersama-sama mengeliminasi malaria, saat ini telah dibentuk malaria center di beberapa derah. Saat ini, malaria center sudah terbentuk di Kab. Tikep, Kab. Halmahera Selatan, Kab. Halmahera Barat, Kab. Halmahera Tengah, Kota Ternate, Kab. Halmahera Timur dan Kab. Sula Kepulauan, Provinsi Maluku Utara. Selain itu, terdapat pula di Kab. Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara dan di Provinsi Kepulaun Bangka Belitung.

Minggu, 12 Februari 2012

Watching Dolphin Teluk Kiluan, Tanggamus, Lampung Province, Indonesia


Welcome to the Teluk Kiluan, Lampung, Indonesia,  trips watching dolphin revelers. Hidung Botol dolphin (Tursiops Truncatus) and Paruh Panjang dolphin (Stenella Longirostris).

Teluk Kiluan, Tanggamus Lampung

Acquaintance with the people on the internet adds to number of our friends and add our insight on something that we do not know,
yes I had contacts with people who love to travel and he advised me to post a good place,
want to know what kind of place that said to me?
let us consider together.


Kiluan bay located in Pekon (Village) Kiluan State, District Kelumbayan, District Tanggamus Lampung Province. Gulf Tourism Kiluan natural fit for travelers who like adventure. Hilly topography and berlembah interesting to explore. The journey to the Gulf Kiluan is already a challenge for travelers.

In the waters of the Gulf Kiluan we can see a collection of Dolphins. There are at least two types of Dolphins in the waters of this, the first species is the Bottle Nose Dolphins (Tursiops truncatus) with larger bodies, and shy. The second species is the length of Part Dolphins (Stenella Longirostris) are smaller bodied and fun jumps. To enjoy it, we still have twenty-minute boat ride to the center of the island Kiluan Ocean. Gulf Kiluan also very suitable for a variety of fish and crab fishing was still in a lot. So, we do not forget to bring the following equipment fishing bait.

In addition lumbanya dolphins, we were also able to enjoy the fun snorkeling reefs around the island Kiluan using rented snorkle provided Kiluan residents on the island.

Gulf Kiluan save natural charm that is still natural and preserved ecosystem. Evident from the consciousness of the fishermen in the Gulf Kiluan not catch fish using a stun or potash. Gulf Kiluan developed as an ecotourism destination run by local residents to improve local people's income in addition to their livelihoods as fishermen.
It is interesting to Visited?

source :http://goodsilalahi.blogspot.com/2011/12/acquaintance-with-people-on-internet.html

Kamis, 22 September 2011

PELEPASAN KONTINGEN PERTINAS SBH IV, KWARDA LAMPUNG

Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Lampung, Hi. Sjachrazad ZP, SH, Kamis (22/9) melepas Kontingen Saka Bakti Husada, Kwarda Lampung untuk mengikuti kegiatan Perkemahan Bakti Nasional (Pertinas) SBH IV di Bumi Perkemahan Bongohulawa, Limboto, Provinsi Gorontalo. Dalam sambutannya Hi. Sjachrazad ZP berpesan agar peserta Pertinas SBH, dapat menjaga nama baik daerah Lampung serta dapat menjadikan kegiatan Pertinas sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman. Kegiatan ditandai dengan penyerahan bendera kontingen kepada Pimpinan Kontingen, Wahyudi. Kontingen Pertinas SBH yang terdiri dari 23 orang Pramuka Penegak, 2 orang Pimpinan Kontingen serta 2 orang Pembina pendamping direncanakan tiba di Gorontalo pada tanggal 23 September 2011 dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang akan berlangsung dari tanggal 25 september sampai dengan 2 Oktober 2011.
Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan penutupan kegiatan Peningkatan Kapasitas Kader SBH angkatan terakhir oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, yang diwakili oleh Kepala Bidang Bina SDM dan PM, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, drg. Rosalinda Anriani.Dalam sambutannya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, MKes berharap dari kegiatan ini dapat lahir pamong-pamong saka yang dapat membina dan mengembangkan adik-adik anggota Pramuka sebagai kader bangsa di bidang kesehatan, sehingga menurutnya permasalahan dibidang kesehatan tidak hanya bertumpu pada institusi kesehatan semata, tetapi juga didukung oleh masyarakat khususnya dari unsur generasi muda.

Kegiatan Peningkatan Kapasitas Kader SBH yang diikuti 300 orang  menurut ketua pelaksana dr. Asih Hendrastuti dilakuan dalam 5 tahap. Adapun tujuannya sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para pamong dan calon pamong sehingga mampu mengembangkan SBH di wilayahnya masing-masing.

Minggu, 11 September 2011

Surfing pleasures in Pantai Tanjung Setia, Lampung, Indonesia

Pantai Tanjung Setia is an amazing surf locations. Hundreds of foreign tourists visit this unspoiled place until many months enjoying the height of waves reaching 7 feet.

Pantai Tanjung Setia location in Krui, West Lampung internationally renowned country. Although the need to go through Bukit Barisan National Park are still a lot of wild animals with thick trees on the right and left but this resort is always crowded, especially the foreign tourists.


Surfing pleasures in Pantai Tanjung Setia
Pantai Tanjung Setia lay in the middle coast, south coast, Krui, West Lampung. at this location is welcome ocean waves look so beautiful and the cottages look neat and natural look with a blend of rock and wood as building material.

Waves at Tanjung Setia is directly overlooking the Indian Ocean. Pounding of the waves is not inferior to those in Bali and Nias. In addition, the condition of the fine sand beaches, white pearl tub, beach cleanliness is still awake, and the coral reef that completely unspoiled.

source : http://www.holidaymamboo.com